Kontroversi AI UGM Bocor! Asisten Digital Kampus Gajah Mada Tiba Tiba Sebut Jokowi Bukan Alumni
- Reviews
- calendar_month Sabtu, 6 Des 2025

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
- AI UGM bernama LISA membuat heboh setelah salah menyebut Presiden Jokowi bukan alumni, memicu klarifikasi cepat dari pihak universitas.
- Kesalahan ini terjadi karena inkonsistensi data yang diakses AI dari internet, menunjukkan kerentanan sistem yang masih dalam tahap pengembangan (soft launching).
- UGM menegaskan bahwa Jokowi adalah alumni sah yang lulus dari Fakultas Kehutanan, dan berjanji akan menyempurnakan sistem LISA agar tidak terjadi kesalahan serupa.
Universitas Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah Asisten Digital berbasis Kecerdasan Buatan (AI) miliknya, bernama LISA, memberikan jawaban yang salah dan kontradiktif mengenai status kelulusan Presiden Joko Widodo sebagai alumni kampus tersebut.
Dalam sebuah video yang viral, LISA secara keliru menyatakan bahwa Presiden ketujuh RI, yang lulusan Fakultas Kehutanan, “bukan alumni” UGM meskipun ia menyelesaikan pendidikannya di sana. Insiden ini memaksa UGM, melalui juru bicara I Made Andi Arsana, untuk segera merilis keterangan resmi yang menegaskan bahwa informasi dari AI tersebut tidak akurat dan Joko Widodo adalah alumni UGM yang lulus.
Kontroversi bermula ketika asisten AI bernama LISA (Lean Intelligent Service Assistant), yang merupakan bagian dari program layanan terintegrasi UGM, merespons pertanyaan pengguna.
Secara teknis, LISA dikembangkan melalui kerja sama UGM dan PT Botika Teknologi Indonesia dengan basis data yang utamanya terbatas pada informasi internal kampus seperti akademik dan administrasi.
Namun, dalam kasus pertanyaan spesifik terkait alumni bernama Jokowi, sistem AI ini memberikan jawaban yang sangat inkonsisten, membingungkan publik, dan menciptakan kehebohan di media sosial.
Juru Bicara UGM I Made Andi Arsana secara tegas menyatakan bahwa insiden ini merupakan konsekuensi dari kondisi teknis perangkat berbasis AI yang masih dalam tahap ‘soft launching’ dan pengembangan.
Lisa, yang hadir dalam bentuk anjungan digital di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), masih memiliki mekanisme “belajar” yang memungkinkan pengambilan data dari luar UGM atau internet, dan akurasi informasinya sangat bergantung pada sumber eksternal tersebut.
UGM menegaskan komitmen mereka untuk terus menyempurnakan dan melatih sistem AI ini agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.
Menguak Misteri LISA: Keterbatasan Data Versus Harapan Publik
Asisten digital LISA diciptakan dengan ambisi besar: menjadi jembatan layanan terintegrasi bagi mahasiswa dan masyarakat umum.
Dikembangkan oleh Biro Transformasi Digital dan Direktorat Kemahasiswaan UGM, LISA hadir sebagai hasil karya UGM dan PT Botika Teknologi Indonesia. Namun, seperti halnya teknologi yang baru lahir, LISA memiliki keterbatasan mendasar.
“Perlu dipahami, LISA dikembangkan untuk tujuan spesifik dan tidak sama dengan produk AI komersial seperti Chat GPT, Gemini atau lainnya.
Basis data pengetahuan LISA terbatas pada data dan informasi internal UGM terkait akademik, kemahasiswaan, administrasi, dan pengembangan diri namun tidak memuat data dan informasi pribadi,” tulis keterangan pers UGM.
Keterbatasan inilah yang menjadi celah ketika pertanyaan yang sensitif atau bersifat umum diajukan. Sistem LISA memiliki dua cara untuk belajar: pertama, dari asupan data internal UGM yang sangat terkontrol; kedua, menggunakan data dan informasi dari luar UGM atau internet ketika data internal tidak memadai.
Dalam insiden Jokowi, cara kedua inilah yang berjalan, dan hasilnya dipengaruhi oleh akurasi dan kebenaran informasi yang ditarik dari jagat maya.
Made Andi Arsana mencatat bahwa respons LISA bahkan kontradiktif, di mana di satu sisi menyatakan Jokowi “bukan alumni” tetapi di sisi lain mengakui bahwa ia “menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Kehutanan UGM”.
Inkonsistensi ini menjadi bukti nyata bahwa AI, tanpa training dan filter yang sempurna, rentan terhadap bias dan kesalahan informasi.
Dampak dan Penegasan Status Alumni UGM
Di tengah keramaian media sosial, UGM bergerak cepat untuk membersihkan nama baik dan menegaskan kebenaran fakta.
UGM menilai pernyataan LISA mengenai Jokowi yang tidak lulus sangatlah tidak konsisten karena sebelumnya AI tersebut menyatakan bahwa Jokowi menyelesaikan pendidikan di UGM. Ini adalah inkonsistensi yang fatal bagi sebuah sistem informasi kampus.
Untuk meredam gejolak, UGM telah menegaskan kembali bahwa Joko Widodo adalah alumni yang lulus dari UGM. Penegasan ini sesuai dengan pernyataan yang telah disampaikan oleh Rektor UGM sebelumnya.
Status Jokowi sebagai alumni telah diakui dan digunakan dalam berbagai konteks resmi UGM, termasuk saat ia diangkat menjadi Ketua Task Force BRIN Bencana Sumatera. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia: bahwa integrasi teknologi canggih seperti AI harus dibarengi dengan validasi data yang ketat dan transparan.
Insiden LISA UGM ini menjadi studi kasus penting mengenai tantangan implementasi kecerdasan buatan di ranah publik dan institusi resmi. Meskipun AI menjanjikan efisiensi layanan, keakuratannya, terutama pada data yang memiliki sensitivitas tinggi, harus menjadi prioritas utama.
UGM kini berada di bawah pengawasan ketat untuk memastikan bahwa pengembangan dan training LISA mampu menutup celah-celah kesalahan berbasis data eksternal, sehingga tidak lagi merusak integritas informasi kampus.
Kedepannya, kegagalan LISA ini akan mendorong UGM untuk memperkuat kurasi data yang diserap oleh asisten digitalnya.
Penegasan status alumni Presiden Jokowi secara resmi oleh UGM diharapkan mengakhiri spekulasi yang ditimbulkan oleh kecerobohan teknologi ini, sekaligus menggarisbawahi pentingnya verifikasi manual meski teknologi telah mengambil alih peran informasi.
Q: Apa masalah utama yang terjadi dengan asisten digital AI milik UGM?
A: Asisten digital bernama LISA secara keliru menyatakan bahwa Presiden RI, Joko Widodo, bukan merupakan alumni lulusan dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Q: Siapa nama asisten digital AI yang bermasalah tersebut?
A: Nama asisten digital tersebut adalah LISA (Lean Intelligent Service Assistant).
Q: Mengapa LISA memberikan jawaban yang salah mengenai status alumni Jokowi?
A: LISA masih dalam tahap soft launching dan pengembangannya bergantung pada dua sumber data. Ketika informasi internal UGM tidak memadai, LISA mengambil data dari internet, yang dalam kasus ini terbukti tidak akurat dan bahkan inkonsisten.
- person
- visibility 17
- forum 0

Saat ini belum ada komentar